

Malang – Sektor industri kreatif, khususnya bidang animasi dan pembuatan konten digital di Indonesia, saat ini memegang peranan strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Perkembangan platform media sosial yang masif turut menuntut studio animasi untuk tidak hanya menghasilkan karya yang berkualitas, tetapi juga menerapkan model bisnis dan alur kerja yang efisien. Menjawab tantangan tersebut, tim dosen pengabdian masyarakat yaitu Mitra Istiar Wardhana, S.Kom, M.T., Bunga Fefiana Mustikasari, S.Sn., M.Ds., Dennaya Cintya Danastri, S.Sn., MBA menjalin kolaborasi strategis dengan Trivic Studio, sebuah studio kreatif yang memproduksi animasi dan konten visual digital yang berbasis di Malang.
Sejalan dengan produktivitas dan eksistensi Trivic Studio di industri kreatif, terdapat peluang besar untuk mengeksplorasi potensi pasar animasi berseri secara lebih luas. Untuk mengoptimalkan peluang tersebut, diperlukan penguatan pada implementasi model produksi (pipeline) yang terstruktur serta penyesuaian alur kerja (workflow) yang adaptif. Langkah optimalisasi ini dirancang untuk merencanakan konsep animasi yang matang sekaligus meningkatkan efisiensi manajemen waktu dan kapasitas produksi.
Guna merumuskan pemecahan topik tersebut, telah dilaksanakan koordinasi awal secara daring pada 22 Juli 2026. Pertemuan ini dihadiri oleh tim dosen pengabdian yang terlibat bersama pihak Trivic Studio, yaitu Aden dan Fajar. Diskusi ini berfokus pada pemetaan tiga tantangan utama yang dihadapi: keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dalam pengembangan konsep animasi berseri, belum tersedianya kekayaan intelektual/konsep animasi yang matang, serta belum adanya pipeline produksi terstandar untuk serial animasi pendek.
Sebagai langkah konkret atas permasalahan keterbatasan SDM dan beban kerja (workload) yang tinggi, disepakati skema kolaborasi berbasis Teaching Factory (TeFa). Dalam skema kerja sama ini, Trivic Studio bertindak sebagai Project Manager yang melakukan pengawasan operasional dan kontrol kualitas (quality control) terhadap para ilustrator serta animator mahasiswa yang tergabung dalam TeFa. Dari sisi pengembangan konten, kolaborasi ini menyepakati perancangan konsep serial animasi 2D yang mengusung tema kebudayaan lokal. Pemilihan fokus kebudayaan didasari oleh analisis peluang pasar, di mana konten animasi berbasis narasi lokal masih memiliki potensi eksplorasi yang luas dan daya saing yang tinggi di industri konten digital terutama dalam bidang pelestarian budaya.
Terkait alur produksi, pengabdian ini merancang pendekatan bertahap. Pada tahun pertama, fokus kegiatan diarahkan pada penyusunan dokumen pipeline produksi dan pembuatan perancangan aset karakter (character design dan asset creation). Sementara itu, tahapan eksekusi produksi animasi secara penuh dijadwalkan berjalan pada awal tahun depan. Diskusi teknis lanjutan terkait detail alur kerja dan konsep visual akan dilaksanakan melalui pertemuan tatap muka di Studio Trivic.
Melalui sinergi ini, program pengabdian diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan kapasitas usaha dan efisiensi operasional Trivic Studio secara berkelanjutan, tetapi juga menjadi sarana inkubasi industri bagi mahasiswa TeFa untuk memperoleh pengalaman kerja profesional di sektor kreatif. Langkah kolaboratif ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) poin 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dan juga poin 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui penguatan kapasitas industri kreatif lokal dan kemitraan pendidikan berbasis industri.

Leave a comment