Dosen UM Teliti Karakter Desain bagi Pembelajaran Anak ABK dan Tipikal demi Hadirkan Pendidikan Inklusif Berkelanjutan

MALANG – Dalam upaya mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDG) 4, yaitu menjamin pendidikan berkualitas yang inklusif dan merata, tim peneliti dari Universitas Negeri Malang (UM) menggelar riset mengenai pengembangan visual karakter desain bagi pembelajaran anak. Penelitian yang dipimpin oleh Nuril Kusuma Wardani, S.Sn., M.Ds. (Dosen Prodi D4 Animasi, Fakultas Vokasi UM) bersama Nur Amin Barokah Asfari, S.Psi., M.A. (Fakultas Psikologi) dan Rosyi Damayani T. Maningtyas, M.Pd. (Departemen PG-PAUD) ini menyoroti pentingnya penyesuaian gaya visual media edukasi untuk mendukung daya tangkap serta kenyamanan sensori peserta didik di kelas inklusi.

Saat ini, penelitian tersebut masih berada pada tahap observasi terhadap media pembelajaran yang sudah ada sekaligus tahap observasi awal untuk pengembangan karakter desain 2D. Langkah observasi ini difokuskan pada perbandingan respons visual antara Anak Berkebutuhan Khusus (khususnya anak dengan gangguan spektrum autisme/ASD) dan anak dengan perkembangan tipikal (normal). Proses ini menjadi fondasi penting untuk merumuskan standar karakter desain yang aman dan efektif sebelum nantinya ditransformasikan ke dalam bentuk pemodelan aset 3D pada teknologi interaktif.

Peran Sentral Media Visual dalam Pembelajaran Anak

Dalam aktivitas edukasi sehari-hari, media visual berbasis gambar terbukti memegang peranan yang sangat dominan dalam mendukung interaksi, komunikasi, serta pembentukan perilaku anak. Dibandingkan dengan media interaktif digital atau mainan fisik lainnya, media visual ini memiliki durasi dan frekuensi penggunaan paling tinggi karena fleksibilitas materi yang ditawarkannya dalam mengenalkan konsep, kosakata, hingga komunikasi dasar. Pada media yang ada saat ini, penggunaan gambar umumnya terbagi dalam dua kelompok ukuran, yaitu ukuran ringkas berkisar dari 8×8 cm hingga 15×15 cm untuk objek, sifat, dan angka, serta ukuran besar berdimensi 9×12 cm hingga 22×16 cm untuk kegiatan, tempat, dan kategori yang mengakomodasi komposisi gambar lebih kompleks. Meskipun ukurannya bervariasi, analisis observasi menunjukkan bahwa faktor dimensi fisik tidak memberikan perbedaan signifikan terhadap preferensi anak, yang membuktikan bahwa aspek gaya karakter desain visual atau image style merupakan variabel utama yang sangat memengaruhi perhatian anak.

Hasil Observasi Tahap Awal Desain 2D: ABK vs Anak Tipikal

Berdasarkan data observasi empiris pada media 2D yang ada, tampilan karakter visual terbukti 100% memengaruhi tingkat atensi, motivasi, dan kejelasan pemahaman anak. Namun, terdapat perbedaan karakteristik dan respons yang cukup kontras antara anak autis (ABK) dan anak tipikal terhadap jenis gaya visual serta tingkat kompleksitas gambar. Gaya fotografi atau realistis merupakan gaya yang paling diminati oleh kelompok anak autis dengan mendominasi tingkat keterpilihan hingga 49,07% dalam uji observasi pilot. Anak autis menunjukkan First Fixation Time atau waktu pemusatan perhatian awal yang sangat cepat, Reaction Time yang singkat, serta mampu mencapai tingkat akurasi pemahaman hingga 100% saat melihat gambar berbasis foto objek nyata

Di sisi lain, gaya kartun menjadi pilihan favorit bagi anak-anak dengan perkembangan tipikal atau normal karena bentuknya yang disederhanakan sangat ampuh memicu daya imajinasi mereka, meskipun gaya ini berada di posisi kedua dengan persentase 23,15% pada kelompok anak ABK. Sementara itu, gaya simbol atau abstrak memiliki tingkat keterpilihan paling rendah sebesar 15,74% dan umumnya hanya efektif untuk komunikasi visual yang sangat terbatas. Dari segi kompleksitas visual dan sensori, berdasarkan pengamatan dan laporan pendamping, sebesar 65% anak autis pernah melakukan penolakan seperti menarik diri atau tantrum apabila disajikan tampilan visual yang terlalu ramai atau rumit. Anak autis sangat rentan terhadap sensory overload pada gambar bertingkat kompleksitas tinggi yang terdiri dari lebih dari 5 objek atau latar belakang ramai, sehingga mereka merespon jauh lebih positif pada desain 2D dengan kompleksitas rendah yang hanya menampilkan 1 hingga 2 objek utama tanpa latar rumit. Sebaliknya, anak tipikal membutuhkan keterlibatan visual yang lebih dinamis karena gambar 2D yang terlalu sederhana atau minim latar belakang sering kali membuat daya atensi mereka cepat menurun. Pada karakter desain visual yang realistis atau familier, kedua kelompok anak menunjukkan Engage Time yang lebih lama, seperti aktif menirukan gerakan objek, merespons instruksi, hingga menirukan suara karakter yang ditunjukkan.

Langkah Lanjutan: Transisi Observasi 2D ke Pengembangan Aset 3D

Temuan dari tahap observasi media 2D ini menjadi pijakan utama bagi tim peneliti Universitas Negeri Malang sebelum melangkah ke tahap perancangan karakter desain aset 3D. Penelitian ini menegaskan bahwa untuk menciptakan lingkungan pembelajaran inklusif, pembuatan karakter visual 3D tidak boleh disamaratakan (one-size-fits-all).

Prinsip dasar dari hasil observasi 2D—seperti kejelasan bentuk objek, tingkat kompleksitas elemen, serta pemilihan skema warna yang seimbang—akan diadaptasi secara langsung dalam pembuatan model visual 3D. Melalui riset bertahap ini, diharapkan lahir panduan standar karakter desain media edukasi yang tidak hanya menarik bagi siswa reguler, tetapi juga ramah terhadap profil kognitif dan sensori anak berkebutuhan khusus.

Leave a comment