
MALANG,— Universitas Negeri Malang (UM) melalui Program Studi D4 Animasi Fakultas Vokasi terus berkomitmen mendukung inovasi media edukasi berbasis kebudayaan lokal. Di bawah bimbingan dosen Nuril Kusuma Wardani, S.Sn., M.Ds., mahasiswa D4 Animasi UM, Vara Ananda Putri, sukses menyelesaikan perancangan karya berbasis Animasi 3D Lagu Daerah Banyuwangi berjudul “Layangan”. Karya ini hadir sebagai bentuk inovasi pelestarian budaya yang adaptif terhadap perkembangan zaman dan tren anak usia muda. Selain menonjolkan estetika visual modern, perancangan ini selaras dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 11 terkait Kawasan Permukiman dan Komunitas yang Berkelanjutan.
Langkah inovatif ini berangkat dari keprihatinan atas masuknya arus budaya populer asing yang kian menurunkan minat anak-anak sekolah dasar terhadap musik tradisional. Berdasarkan survei pendahuluan yang dilakukan di SDN 4 Sumberberas Banyuwangi, sebanyak 70% dari 64 siswa terbukti lebih familiar dan menyukai lagu-lagu modern dibandingkan lagu daerah. Menjawab tantangan tersebut, tim merancang animasi 3D interaktif dari lagu “Layangan” karya maestro Banyuwangi Catur Arum dan Yon’s DD dengan pendekatan visual bergaya cute stylized. Nuril Kusuma Wardani menjelaskan bahwa aspek kebudayaan dikemas secara utuh, tidak hanya lewat audio musik, tetapi juga dibalut elemen visual khas Banyuwangi seperti arsitektur Rumah Adat Suku Osing, Gapura Kemiren, hingga motif Batik Gajah Oling.
Kehadiran media animasi 3D ini terbukti sangat efektif dan mendapatkan respons yang luar biasa positif dari berbagai pihak. Berdasarkan hasil pengujian materi oleh Adlin Mustika Alam, S.Sn. selaku Ketua Sanggar Jiwa Etnik Blambangan, karya ini meraih tingkat kelayakan sebesar 82,5%. Sementara itu, validasi dari sisi media oleh Mitra Istiar Wardhana, S.Kom., M.T. selaku Kaprodi D4 Animasi UM mencatatkan angka 95,0% dengan predikat sangat layak. Pengujian langsung kepada 60 siswa sekolah dasar juga menunjukkan hasil fantastis, di mana tingkat daya tarik visual mencapai 89,27% dan tingkat efektivitas penyampaian pesan menembus angka 99,16%.

Lagu “Layangan” sendiri mengusung filosofi mendalam tentang pentingnya menjaga kerukunan di tengah perbedaan. Hal tersebut tercermin kuat melalui penggalan lirik khas Osing, “Pedhote layangan sing dadi paran, tapi ojok sampek pedhot seduluran” yang bermakna putusnya layangan bukanlah masalah, namun jangan sampai memutus tali persaudaraan. Melalui pendekatan animasi yang menarik, nilai-nilai moralitas, kompetisi yang sehat, dan persaudaraan dapat diserap secara optimal oleh anak-anak. Ke depannya, karya ini tidak hanya ditujukan bagi sekolah dasar tempat penelitian, tetapi juga akan dipublikasikan secara luas di berbagai platform media sosial seperti YouTube, TikTok, dan Instagram untuk memperkuat pemajuan kebudayaan nasional.

Leave a comment